Bupati HST Samsul Rizal Menerima Penghargaan Dari Google Indonesia Atas Prestasi SMPN 1 HST Sebagai Sekolah Rujukan Google dan Satu Satunya di Kalimantan Selatan, Peringkat 3 NasionalBORNEO24JAM.COM,BARABAI – Pagi di Barabai selalu memiliki cara sendiri untuk menghadirkan harapan. Ketika matahari mulai naik perlahan dari balik perbukitan, suara bel sekolah bersahutan dengan langkah kaki anak-anak yang berlarian kecil menuju ruang kelas. Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), suasana seperti ini bukan sekadar rutinitas. Ia adalah denyut kehidupan yang menandai keberlangsungan sebuah ikhtiar besar: membangun masa depan daerah melalui pendidikan yang berkualitas.
Di balik aktivitas sederhana itu, Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah kembali mempertegas komitmennya dalam menciptakan pelayanan publik yang profesional. Fokusnya jelas: pendidikan tidak boleh sekadar berjalan, tetapi harus tumbuh, beradaptasi, dan menjawab tantangan zaman. Tema besar Hari Jadi Kabupaten HST ke-66 tahun menjadi payung dari seluruh langkah strategis ini, yakni “Mewujudkan Pemerintahan yang Tanggap dan Santun dengan Tata Kelola Profesional.”
Bagi Pemkab HST, pendidikan bukan hanya urusan formal di ruang kelas. Ia adalah wajah dari kehadiran negara di tengah masyarakat. Kualitas guru, infrastruktur sekolah, metode pembelajaran, hingga akses teknologi digital dirancang agar menjadi satu kesatuan layanan yang profesional, terukur, dan terus dievaluasi.
Bupati Hulu Sungai Tengah, Samsul Rizal, menegaskan bahwa membangun pendidikan berarti membangun peradaban. Menurutnya, pelayanan yang profesional dimulai dari kualitas sumber daya manusia, dan sumber daya manusia dibentuk sejak dini melalui pendidikan yang bermutu.
Dalam berbagai kesempatan, Bupati menyampaikan bahwa pemerintah daerah harus hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai fasilitator dan akselerator perubahan. “Pendidikan harus menjadi jalan utama kita untuk menciptakan masyarakat yang tanggap, santun, dan berdaya saing,” ungkapnya.
Komitmen ini terlihat dari berbagai program yang dijalankan secara konsisten, mulai dari penguatan pendidikan anak usia dini, peningkatan kompetensi guru, hingga transformasi digital di satuan pendidikan.
Langkah strategis Pemkab HST dimulai dari usia paling dasar: anak usia dini. Melalui pengukuhan Kelompok Kerja (Pokja) Bunda PAUD Kabupaten HST serta Bunda PAUD tingkat kecamatan dan desa/kelurahan, pemerintah membangun sistem pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Bupati Samsul Rizal menekankan bahwa usia 0–6 tahun adalah masa keemasan (golden age) yang sangat menentukan arah perkembangan anak. Pada rentang usia inilah karakter, kebiasaan, kedisiplinan, dan kepekaan sosial mulai terbentuk.
Di sinilah konsep PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) menjadi sangat penting. Berbeda dengan pemahaman PAUD pada umumnya, PAUD HI bukan merupakan unit sekolah baru. “P” dalam PAUD HI merujuk pada Pengembangan, bukan Pendidikan. Artinya, pendekatan ini tidak semata-mata berfokus pada aspek pembelajaran, tetapi pada pemenuhan kebutuhan esensial anak secara menyeluruh.
Melalui PAUD HI, anak-anak tidak hanya diberikan stimulasi pendidikan, tetapi juga dipastikan memperoleh layanan kesehatan, asupan gizi yang memadai, pola pengasuhan yang tepat, perlindungan dari kekerasan dan penelantaran, serta akses terhadap kesejahteraan sosial.

AUDIENSI:Bupati Kabupaten Hulu Sungai Tengan, Samsul Rizal Pertemu Perwakilan Briton di Jakarta
Dinas Pendidikan Kabupaten HST menjadi motor penggerak di balik implementasi PAUD HI. Kepala Dinas Pendidikan HST, H. Muhammad Anhar, S.STP., M.E., mengungkapkan bahwa pihaknya fokus pada pemerataan layanan dan penguatan kapasitas guru.
Sejak tahun 2023, langkah konkret dilakukan melalui program penegerian TK. Sebelumnya, Kabupaten HST hanya memiliki 3 TK Negeri. Kini jumlah itu melonjak menjadi 37 TK Negeri yang tersebar di setiap kecamatan.
“Kami ingin memastikan bahwa layanan pendidikan anak usia dini benar-benar merata, tidak hanya terpusat di wilayah tertentu,” ujarnya.
Selain itu, Dinas Pendidikan aktif menggelar pelatihan dan advokasi terkait PAUD HI. Yang menarik, pelatihan ini tidak hanya melibatkan sektor pendidikan, tetapi juga menggandeng sektor kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan kesejahteraan. Dokter anak dan psikolog dihadirkan dalam forum pelatihan. Dinas Sosial, Dinas PPKB PPPA, hingga Dukcapil turut terlibat dalam satu meja koordinasi.
Semua diarahkan pada satu tujuan besar: memastikan setiap anak HST memperoleh hak tumbuh kembang yang optimal.
Tidak berhenti pada fondasi usia dini, Pemkab HST juga menyiapkan generasi muda agar mampu berinteraksi di tingkat global. Salah satu wujudnya adalah Program Sekolah Berbahasa Inggris (SBI).
Program ini diterapkan mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA/sederajat, bekerja sama dengan Briton English Education. Namun SBI bukan sekadar menambah jam pelajaran bahasa Inggris. Ia dirancang sebagai ekosistem pembelajaran.
Dinas Pendidikan HST memberikan dukungan penuh melalui berbagai program, mulai dari rekrutmen guru hingga pelatihan dasar berbasis CELT. Branding fisik sekolah ditempatkan melalui papan nama SBI. Buku dan silabus pembelajaran berstandar Cambridge disiapkan secara khusus.
Guru-guru difasilitasi untuk mengikuti Cambridge English Qualification Programs. Sebanyak 15 master teacher bahkan dikirim ke Melbourne untuk mengikuti Training of Trainers (ToT). Ujian TKT Modul 2 dan 3 menjadi standar peningkatan kualitas guru.
Tak hanya itu, sekolah-sekolah SBI juga mendatangkan native speakers. Program INSERTT (In-Service Teacher Training) dilaksanakan. Studi banding ke IALF Bali dilakukan. Kursus bahasa Inggris diberikan kepada pengawas, tenaga kependidikan, hingga pegawai Dinas Pendidikan.
Cakupan program diperluas melalui diseminasi kepada 75 guru baru, integrasi kurikulum dengan BSKAP Kemendikdasmen, pembentukan hingga operasional penuh UPT Bahasa Murakata Language Centre, hingga rencana ujian internasional bagi siswa pada tahun 2026.
Di tengah berbagai program tersebut, sebuah sekolah di Barabai menjadi ikon perubahan: SMPN 1 Hulu Sungai Tengah. Sekolah ini resmi menyandang predikat Sekolah Rujukan Google satu-satunya di Kalimantan Selatan dan peringkat ketiga tingkat nasional.
Di ruang kelas sekolah ini, nuansa pendidikan terasa berbeda. Puluhan Chromebook menyala bersamaan. Guru-guru tak lagi terpaku pada buku cetak. Ide dan materi berpindah melalui layar.
Di balik perubahan itu ada Henny Fitriyani, S.Pd., M.M, Kepala Sekolah SMPN 1 HST. Menurutnya, transformasi digital bukan sekadar pengadaan perangkat.
“Teknologi hanya alat. Yang terpenting adalah perubahan cara berpikir,” ucapnya.
Keputusan besar yang diambil adalah menjadikan guru sebagai prioritas. Saat ini, sekolah memiliki 23 guru bersertifikat Google Level 1, 14 guru Level 2, dua Google Trainer, dan satu Google Coach bersertifikasi internasional.
Seluruh guru dan siswa telah menggunakan Google Classroom sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Sekitar 80 persen siswa memanfaatkan Chromebook yang difasilitasi Pemkab HST.
Di balik kemajuan, tantangan tidak diabaikan. Masalah utama yang masih dihadapi adalah kualitas jaringan internet.
“Kami punya banyak perangkat, tapi kalau jaringan lemah, semua itu tidak bisa maksimal. Ibarat mobil bagus tapi tidak ada bahan bakar,” tutur Henny.

Google Classroom, Siswa SMPN 1 HST sedang belajar memanfaatkan Chromebook yang difasilitasi Pemkab HST
Selain itu, pemeliharaan perangkat dan penyelarasan langkah antara guru senior dan junior juga menjadi perhatian. Namun budaya kolektif di sekolah membuat semua tantangan diposisikan sebagai bagian dari proses belajar bersama.
Predikat sebagai Sekolah Rujukan Google bukan menjadi titik akhir. Justru itu menjadi titik awal untuk memperluas dampak transformasi digital ke seluruh sekolah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Dinas Pendidikan HST menjadikan SMPN 1 HST sebagai titik awal pendampingan sekolah-sekolah lain. Adopsi Google Workspace for Education terus didorong. Roadmap integrasi teknologi disusun per kecamatan.
Target besar telah ditetapkan: Hulu Sungai Tengah menjadi Google Reference District pada tahun 2026. Ini berarti transformasi digital tidak hanya terjadi di satu sekolah, tetapi merata di seluruh wilayah.
Untuk mewujudkan itu, Pemkab HST menyusun empat pilar utama: peningkatan kapasitas SDM, penguatan infrastruktur, kebijakan yang matang, dan kemitraan strategis.
Target kuantitatifnya jelas. Pada 2026, diharapkan terdapat 1.000 guru dan tenaga kependidikan bersertifikasi Google Certified Educator Level 1, 50 orang Level 2, dan 40 Google Certified Trainer sebagai motor penggerak.
Google for Education menjadi mitra utama dalam proses ini. BPMP dan BGTK Provinsi Kalimantan Selatan menjadi mitra strategis lainnya. Ke depan, ruang kolaborasi terus dibuka dengan berbagai pihak.
Di usia ke-66 Kabupaten Hulu Sungai Tengah, arah pembangunan semakin jelas: pendidikan adalah poros. Ia bukan sekadar program kerja, tetapi jalan hidup daerah.
Dari PAUD HI yang memastikan anak-anak tumbuh secara utuh, hingga ruang kelas digital di SMPN 1 Barabai yang membuka cakrawala baru, semuanya menjadi mosaik tentang bagaimana pemerintahan yang tanggap dan profesional benar-benar diwujudkan.
Henny, dengan nada tenang, menutup refleksinya:
“Ini bukan garis akhir. Ini adalah awal dari perjalanan panjang kami untuk terus belajar dan terus melayani.”
Dan dari ruang-ruang kelas di Barabai, cerita besar itu terus bergerak. Pelan, namun pasti. Menulis masa depan Hulu Sungai Tengah dengan cara yang paling bermakna.(msk).
Tidak ada komentar